
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. Alhamdulillah atas rahmat dan karunianya penulis mampu menyelesaikan tugas mata kuliah sintaksis dengan judul jenis-jenis kalimat berdasarkan hubungan aktor aksi dengan lancar.
Kita sudah sering sekali mendengar tentang kalimat. Menurut penulis kalimat adalah satuan-satuan sintaksis yang terkumpul menjadi satu serta memiliki aturan-aturan yang akan mengelompokkannya menjadi bentuk kalimat yang berbeda serta dilengkapi dengan konjungsi bila diperlukan.
Seperti keterangan yang telah kita pelajari bersama, ada beberapa ahli yang mengemukakan pendapat yang berbeda namun intinya adalah sama.
Menurut Ramlan, kalimat adalah satuan gramatik yang dibatasi oleh adanya jeda panjang yang disertai nada akhir naik dan turun.
Menurut Kridalaksana, kalimat adalah suatu bahasa yang secara relative berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi final, dan baik secara aktual maupun potensial terdiri dari klausa.
Menurut Wijayamartaya, Panjang atau pendek, kalimat hanya dan harus terdiri atas subjek dan predikat. Kalimat pendek menjadi panjang atau berkembang karena diberi tambahan-tambahan atau keterangan-keterangan pada subjek, pada predikat, atau pada keduanya
Menurut Gorys Keraf, Satu bagian ujaran yang didahului dan diikuti kesenyapan, sedangkan intonasinya menunjukkan bahwa bagian ujaran itu sudah lengkap. Dan masih banyak lagi definisi para ahli tentang kalimat. Namun pada intinya kalimat adalah susunan dari kata, frasa dan klausa membentuk suatu ujaran yang beraturan.
Dalam makalah ini, kami ingin menyajikan jenis-jenis kalimat yang perlu diketahui khususnya jenis-jenis kalimat berdasarkan hubungan aktor-aksi yang akan pembacaketahui pada uraian pembahasan makalah ini.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai jenis-jenis kalimat. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami mengharapkan adanya kritik dan saran demi perbaikan makalah yang akan datang, mengingat tidak ada yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi diri kami khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.
Malang, 15 Desember 2016
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ----- 1
DAFTAR ISI ----- 3
BAB I (PENDAHULUAN)
Latar belakang ----- 4
Rumusan masalah ----- 4
Tujuan -----4
BAB II (PEMBAHASAN)
Macam-macam kalimat ----- 5
Kalimat berdasarkan Jumlah dan Jenis Klausa ----- 5
Kalimat berdasarkan jenis respon yang diharapkan ----- 7
Kalimat berdasarkan sifat hubungan aktor_aksi, ----- 8
Kalimat berdasarkan ada tidaknya unsur negatif pada kalimat utama ----- 9
BAB III KESIMPULAN ----- 11
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATARBELAKANG
Kalimat merupakan primadona dalam kajian bahasa. Hal ini disebabkan antara lain karena dengan perantaraan kalimatlah seorang guru atau dosen dapat menyampaikan maksud secara lengkap dan jelas.Satuan bentuk bahasa yang sudah kita kenal sebelum sampai pada ttaran kalimat adalah kata (mis.tidak ) dan frasa atau kelompok kata (mis. tidak tahu). Kata dan frasa tidak dapat mengungkapkan suatu maksud secara lengkap dan jelas, kecuali jika kata dan frasa itu sedang berperan dalam kalimat minor atau merupakan jawaban sebuah pernyataan. Untuk dapat berkalimat dengan baik perlu kita pahami terlebih dahulu sturuktur dasar suatu kalimat.
B. RUMUSANMASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah apa saja jenis-jenis kalimat berdasarkan hubungan aktor-aksi.
C. TUJUAN
Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan dari penulisan makalah ini adalah agar pembaca dapat mengetahui apa saja pembagian jenis kalimat dan jenis-jenis kalimat berdasarkan hubungan aktor aksi.
BAB II
PEMBAHASAN
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. Alhamdulillah atas rahmat dan karunianya penulis mampu menyelesaikan tugas mata kuliah sintaksis dengan judul jenis-jenis kalimat berdasarkan hubungan aktor aksi dengan lancar.
Kita sudah sering sekali mendengar tentang kalimat. Menurut penulis kalimat adalah satuan-satuan sintaksis yang terkumpul menjadi satu serta memiliki aturan-aturan yang akan mengelompokkannya menjadi bentuk kalimat yang berbeda serta dilengkapi dengan konjungsi bila diperlukan.
Seperti keterangan yang telah kita pelajari bersama, ada beberapa ahli yang mengemukakan pendapat yang berbeda namun intinya adalah sama.
Menurut Ramlan, kalimat adalah satuan gramatik yang dibatasi oleh adanya jeda panjang yang disertai nada akhir naik dan turun.
Menurut Kridalaksana, kalimat adalah suatu bahasa yang secara relative berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi final, dan baik secara aktual maupun potensial terdiri dari klausa.
Menurut Wijayamartaya, Panjang atau pendek, kalimat hanya dan harus terdiri atas subjek dan predikat. Kalimat pendek menjadi panjang atau berkembang karena diberi tambahan-tambahan atau keterangan-keterangan pada subjek, pada predikat, atau pada keduanya
Menurut Gorys Keraf, Satu bagian ujaran yang didahului dan diikuti kesenyapan, sedangkan intonasinya menunjukkan bahwa bagian ujaran itu sudah lengkap. Dan masih banyak lagi definisi para ahli tentang kalimat. Namun pada intinya kalimat adalah susunan dari kata, frasa dan klausa membentuk suatu ujaran yang beraturan.
Dalam makalah ini, kami ingin menyajikan jenis-jenis kalimat yang perlu diketahui khususnya jenis-jenis kalimat berdasarkan hubungan aktor-aksi yang akan pembacaketahui pada uraian pembahasan makalah ini.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai jenis-jenis kalimat. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami mengharapkan adanya kritik dan saran demi perbaikan makalah yang akan datang, mengingat tidak ada yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi diri kami khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.
Malang, 15 Desember 2016
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ----- 1
DAFTAR ISI ----- 3
BAB I (PENDAHULUAN)
Latar belakang ----- 4
Rumusan masalah ----- 4
Tujuan -----4
BAB II (PEMBAHASAN)
Macam-macam kalimat ----- 5
Kalimat berdasarkan Jumlah dan Jenis Klausa ----- 5
Kalimat berdasarkan jenis respon yang diharapkan ----- 7
Kalimat berdasarkan sifat hubungan aktor_aksi, ----- 8
Kalimat berdasarkan ada tidaknya unsur negatif pada kalimat utama ----- 9
BAB III KESIMPULAN ----- 11
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATARBELAKANG
Kalimat merupakan primadona dalam kajian bahasa. Hal ini disebabkan antara lain karena dengan perantaraan kalimatlah seorang guru atau dosen dapat menyampaikan maksud secara lengkap dan jelas.Satuan bentuk bahasa yang sudah kita kenal sebelum sampai pada ttaran kalimat adalah kata (mis.tidak ) dan frasa atau kelompok kata (mis. tidak tahu). Kata dan frasa tidak dapat mengungkapkan suatu maksud secara lengkap dan jelas, kecuali jika kata dan frasa itu sedang berperan dalam kalimat minor atau merupakan jawaban sebuah pernyataan. Untuk dapat berkalimat dengan baik perlu kita pahami terlebih dahulu sturuktur dasar suatu kalimat.
B. RUMUSANMASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah apa saja jenis-jenis kalimat berdasarkan hubungan aktor-aksi.
C. TUJUAN
Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan dari penulisan makalah ini adalah agar pembaca dapat mengetahui apa saja pembagian jenis kalimat dan jenis-jenis kalimat berdasarkan hubungan aktor aksi.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Macam-macam Kalimat dalam Bahasa Indonesia
Kalimat dapat diklasifikasikan berdasarkan dengan: (1) jumlah dan jenis klausa yang terdapat di dalamnya, (2) jenis respon yang diharapkan, (3) sifat hubungan aktor_aksi, dan (4) ada tidaknya unsur negatif pada kalimat utama.
Kalimat dapat diklasifikasikan berdasarkan dengan: (1) jumlah dan jenis klausa yang terdapat di dalamnya, (2) jenis respon yang diharapkan, (3) sifat hubungan aktor_aksi, dan (4) ada tidaknya unsur negatif pada kalimat utama.
a. Berdasarkan jumlah dan jenis klausa yang terdapat di dalamnya, kalimat dapat dibedakan atas kalimat minor dan kalimat mayor.
b. Kalimat minor adalah kalimat yang terdiri atas satu klausa terikat atau sama sekali tidak mengandung struktur klausa. Kalimat minor dibedakan atas:
c) Kalimat minor berstruktur, yaitu kalimat minor yang muncul sebagai lanjutan, pelengkap, atau penyempurna kalimat utuh atau klausa lain yang terdahulu dalam wacana (Samsuri, 1985:278). Berdasarkan sumber penurunnya, kalimat minor berstruktur dibedakan atas:
b) Kalimat elips, yaitu kalimat minor yang terjadi karena pelepasan beberapa bagian dari klausa kalimat tunggal.
Contoh: Terserah saja. (Penyelesainnya terserah kamu saja)
c) Kalimat jawaban, yaitu kalimat minor yang bertindak sebagai jawaban atas pentanyaan-pertanyaan.
Contoh : (Ada yang kau bawa itu?) Lukisan.
d) Kalimat sampingan, yaitu kalimat minor yang terjadi penurunan klausa terikat dari kalimat majemuk subordinat.
Contoh : (cepat) Meskipun hujan. (Dia tetap datang)
e) Kalimat urutan, yaitu kalimat minor, tetapi didahului oleh konjungsi, sehingga menyatakan bahwa kalimat tersebut merupakan bagian kalimat lain. (Samsuru, 1985:263)
Contoh : Karena itu, harga minyak naik.
f) Kalimat minor tak berstruktur, yaitu kalimat minor yang muncul sebagai akibat pengisian wacana yang ditentukan oleh situasi, dibedakan atas:
1) Panggilan.
Contoh :Bakso!
2) Seruan. biasanya terdiri dari kata yang menyatakan ungkapan perasaan.
Contoh : Halo!
3) Judul, merupakan suatu ungkapan topik atau gagasan.
Contoh : Dampak negatif penayangan TV.
4) Semboyan, yaitu uangkapan ide secara tegas, tepat dan tanpa hiasan bahasa atau kelengkapan sebuah klausa.
Contoh : Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.
5) Salam,
Contoh : Selamat pagi!
g) Inskripsi, yaitu kalimat minor tak berstruktur yang berisi penghormatan atau persembahan pada awal sebuah karya (buku, lukisan dsb.).
Contoh : Untuk para pengikrar Sumpah Pemuda 1928.
b. Kalimat mayor adalah kalimat yang terdiri atas sekurang-kurangnya satu klausa bebas. Berdasarkan statusnya, dalam kalimat mayor, pembentuk yang inti saja. Berdasarkan statusnya, dalam kalimat mayor, terdapat unsur pembentuk yang inti saja, berdasarkan jumlah klausa yang terdapat didalamnya, kalimat mayor dapat dibedakan atas
a) Kalimat majemuk subordinatif, yaitu kalimat majemuk yang salah satu klausanya menduduki : (a) salah satu fungsi sintaksis dari klausa yang lain atau (b) atribut dari salah satu fungsi sintaksis klausa yang lain.
Contoh :
1) Yang berkaca mata hitam itu teman saya.
2) Orang itu badannya sangat gemuk.
3) Polisi telah mengatakan bahwa kabar itu bohong.
b. Kalimat minor adalah kalimat yang terdiri atas satu klausa terikat atau sama sekali tidak mengandung struktur klausa. Kalimat minor dibedakan atas:
c) Kalimat minor berstruktur, yaitu kalimat minor yang muncul sebagai lanjutan, pelengkap, atau penyempurna kalimat utuh atau klausa lain yang terdahulu dalam wacana (Samsuri, 1985:278). Berdasarkan sumber penurunnya, kalimat minor berstruktur dibedakan atas:
b) Kalimat elips, yaitu kalimat minor yang terjadi karena pelepasan beberapa bagian dari klausa kalimat tunggal.
Contoh: Terserah saja. (Penyelesainnya terserah kamu saja)
c) Kalimat jawaban, yaitu kalimat minor yang bertindak sebagai jawaban atas pentanyaan-pertanyaan.
Contoh : (Ada yang kau bawa itu?) Lukisan.
d) Kalimat sampingan, yaitu kalimat minor yang terjadi penurunan klausa terikat dari kalimat majemuk subordinat.
Contoh : (cepat) Meskipun hujan. (Dia tetap datang)
e) Kalimat urutan, yaitu kalimat minor, tetapi didahului oleh konjungsi, sehingga menyatakan bahwa kalimat tersebut merupakan bagian kalimat lain. (Samsuru, 1985:263)
Contoh : Karena itu, harga minyak naik.
f) Kalimat minor tak berstruktur, yaitu kalimat minor yang muncul sebagai akibat pengisian wacana yang ditentukan oleh situasi, dibedakan atas:
1) Panggilan.
Contoh :Bakso!
2) Seruan. biasanya terdiri dari kata yang menyatakan ungkapan perasaan.
Contoh : Halo!
3) Judul, merupakan suatu ungkapan topik atau gagasan.
Contoh : Dampak negatif penayangan TV.
4) Semboyan, yaitu uangkapan ide secara tegas, tepat dan tanpa hiasan bahasa atau kelengkapan sebuah klausa.
Contoh : Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.
5) Salam,
Contoh : Selamat pagi!
g) Inskripsi, yaitu kalimat minor tak berstruktur yang berisi penghormatan atau persembahan pada awal sebuah karya (buku, lukisan dsb.).
Contoh : Untuk para pengikrar Sumpah Pemuda 1928.
b. Kalimat mayor adalah kalimat yang terdiri atas sekurang-kurangnya satu klausa bebas. Berdasarkan statusnya, dalam kalimat mayor, pembentuk yang inti saja. Berdasarkan statusnya, dalam kalimat mayor, terdapat unsur pembentuk yang inti saja, berdasarkan jumlah klausa yang terdapat didalamnya, kalimat mayor dapat dibedakan atas
a) Kalimat majemuk subordinatif, yaitu kalimat majemuk yang salah satu klausanya menduduki : (a) salah satu fungsi sintaksis dari klausa yang lain atau (b) atribut dari salah satu fungsi sintaksis klausa yang lain.
Contoh :
1) Yang berkaca mata hitam itu teman saya.
2) Orang itu badannya sangat gemuk.
3) Polisi telah mengatakan bahwa kabar itu bohong.
c. Kalimat majemuk koordinat, yaitu kalimat majemuk yang klausa-klausanya tidak menduduki fungsi sintaksis dari kla
Busa lain (Samsuri, 1985:316).
Contoh :
1) Semalam suntuk saya tidur di kursi, dan orang-orang itu bermain kartu.
2) Mula-mula dinyalakannya api, lalu ditaruhnya cerek diatasnya.
3) Dalam perang, kita harus berani membunuh lawan, kalau tidak kita sendiri yang dibunuh.
d. Kalimat majemuk rapatan, yaitu kalimat majemuk koordinatif yang klausa-klausanya mempunyai kesamaan-kesamaan, baik kesamaan subjek, predikat objek, maupun keterangan.
Contoh :
1) Rumah itu baru saja diperbaiki, tetapi sekarang sudah rusak.
2) Saya mengerjakana bagian depan, adik bagian belakang.
3) Dengan susah payah orang tuaku membangun rumah ini, tetapi saya tinggal menempati saja.
b. Berdasarkan respon yang diharapkan, kalimat dibedakan atas :
a. Kalimat pernyataan adalah kalimat yang dibentuk untuk menyiarkan informasi tanpa mengharapkan response tertentu. Cirri untuk mengenal kalimat pernyataan ini yaitu melalui pola intonasinya yang bernada akhir turun (dalam bahasa lisan) dan tanda titik (.) seperti ayo, mari; kata-kata persilahkan, seperti silahkan, dipersilahkan; dan kata larangan (jangan).
Contoh :
1) Cita-cita anak itu sangat mulia.
2) Saya tidak membawa uang sama sekali.
3) Menurut teori Darwin, manusia merupakan keteturunan kera.
b. Kalimat pertanyaan adalah kalimat yang dibentuk untuk memancing response yang berupa jawaban. Kalimat pertanyaan dapat dikenal dari pola intonasinya yang bernada akhir naik serta nada terakhir dan pola intonasi kalimat pertanyaan. Nada akhir kalimat pertanyaan ditandai dengan tanda Tanya (?) dalam bahasa tulisan.
Contoh :
1) Kakak sudah menikah?
2) Mengapa anak itu tidak tidur?
3) Siapa pemilik rumah itu?
c. Kalimat perintah adalah kalimat yang dibentuk untuk memancing responsi yang berupa tindakan (Samsuri, 1985:276-278). Kalimat perintah ditandai dengan tanda seru (!). tetapi penggunaan seru ini biasanya tidak dipakai kalau sifat perintah itu menjadi lemah, demikian juga predikatnya diikuti oleh partikel-lah. Kalimat perintah dapat bersifat negative. Untuk menegatifkan kalimat perintah, digunakan kata jangan yang biasanya ditempatkan pada bagian awal kalimat. Kaliamat perintah yang besifat negative berubah menjadi larangan.
Contoh :
1) Masuklah!
2) Marilah kita belajar bersama-sama!
3) Jangan membuang sampah di sembarang tempat!
c. Berdasarkan hubungan aktor-aksi, kalimat dapat dibedakan atas :
a. Kalimat aktif adalah kalimat yang subjeknya berperan sebagai pelaku actor. Subjek kalimat aktif berperan sebagai perbuatan yang dinyatakan oleh predikat. Predikat kalimat aktif tediri atas verba transitif dan verba intransitive. Afiks yang digunakan dalam pembentukan kata yang berfungsi sebagai perdikat kalimat aktif ialah meN- dan ber- yang dapat dikombinasikan dengan –I atau –kan.
Contoh :
1) Anak itu memetik bunga di taman.
2) Ayah membelikan kakak baju baru.
3) Pembantu itu sedang menyapu halaman.
b. Kalimat pasif adalah kalimat yang subjeknya berperan sebagai penderita. Subjek dalam kalimat pasif berperan sebagai penderita perbuatan yang dinyatakan oleh predikat kalimat tersebut.
Predikat kalimat pasif terdiri atas verba verba yang berpredikat di- yang dapat bekombinasi dengan sufiks –i dan –kan, beprefiks ter-, berkonfiks ke-an, dan verba yang didahului oleh pronominal persona.
Contoh :
1) Badannya dilumuri minyak.
2) Kita apakan barang-barang ini?
3) Tidak terlihat olehku benda yang kau tujukan itu.
c. Kalimat medial adalah kalimat yang subjeknya berperan baik sebagai pelaku maupun sebagai penderita perbuatan yang dinyatakan oleh predikat tersebut.
Contoh :
Jangan menyiksa diri sendiri.
Wanita itu berhias di depan cermin.
d. Kalimat respirokal adalah kalimat yang subjek dan objeknya melakukan sesuatu pebuatan yang berbalas-balasan. Verba yang berfungsi sebagai predikat pada kalimat respirokal adalah verba yang beprefiks me- yang didahului oleh kata dasarnya, verba berulang yang berkombinasi dengan konfiks ber-kan, verba dasar yang diikuti oleh kata baku, dan saling yang diikuti oleh veba yang berprefiks me- atau me-i/kan.
Contoh :
1) Kedua Negara itu tuduh-menuduh tentang pelanggaran perbatasan.
2) Dua bersaudara itu saling mencintai dan saling menyayangi.
3) Pemuda-pemuda tanggung itu berbaku hantam di tanah lapang.
d. Bedasarkan ada tidaknya unsur negatif pada klausa utama, kalimat dibedakan atas:
a. Kalimat firmatif, yaitu kalimat yang berpredikat utamanya tidak tedapat unsur negatif, peniadaan, atau penyangkalan.
Contoh :
1) Petani itu membajak sawah.
2) Di Surabaya diresmikan patung Jendral Sudirman.
3) Kami mendengar kabar bahwa pemberontakan di Iran sudah berakhir.
b. Kalimat negatif, yaitu kalimat yang predikat utamanya terdapat unsure negative, peniadaan, atau penyangkalan, seperti tidak, tiada (tak), bukan, jangan. Unsur negatif tidak dipakai di depan verba, adjektiva, adverbial, dan frase preposisi yang berfungsi sebagai keterangan. Unsure negatif bukan pada umumnya dipakai di depan nomina/frase nomina dan pronominal/frase pronominal. Unsur negatiF jangan digunakan untuk menegatifkan kalimat printah.
Contoh :
Sedikitpun aku tidak ingin berbuat jahat.
Bukan buku itu yang saya cari.
Jangan kau biarkan adikmu bermain dengan dia.
BAB III
KESIMPULAN
Kalimat adalah satuan-satuan sintaksis yang terkumpul menjadi satu serta memiliki aturan-aturan yang akan mengelompokkannya menjadi bentuk kalimat yang berbeda serta dilengkapi dengan konjungsi bila diperlukan.
A. Berdasarkan hubungan aktor-aksi, kalimat dapat dibedakan atas :
a. Kalimat aktif adalah kalimat yang subjeknya berperan sebagai pelaku actor. Subjek kalimat aktif berperan sebagai perbuatan yang dinyatakan oleh predikat. Predikat kalimat aktif tediri atas verba transitif dan verba intransitive. Afiks yang digunakan dalam pembentukan kata yang berfungsi sebagai perdikat kalimat aktif ialah meN- dan ber- yang dapat dikombinasikan dengan –I atau –kan.
Contoh :
1. Anak itu memetik bunga di taman.
2. Ayah membelikan kakak baju baru.
3. Pembantu itu sedang menyapu halaman.
b. Kalimat pasif adalah kalimat yang subjeknya berperan sebagai penderita. Subjek dalam kalimat pasif berperan sebagai penderita perbuatan yang dinyatakan oleh predikat kalimat tersebut.
Predikat kalimat pasif terdiri atas verba verba yang berpredikat di- yang dapat bekombinasi dengan sufiks –i dan –kan, beprefiks ter-, berkonfiks ke-an, dan verba yang didahului oleh pronominal persona.
Contoh :
1) Badannya dilumuri minyak.
2) Kita apakan barang-barang ini?
3) Tidak terlihat olehku benda yang kau tujukan itu.
c. Kalimat medial adalah kalimat yang subjeknya berperan baik sebagai pelaku maupun sebagai penderita perbuatan yang dinyatakan oleh predikat tersebut.
Contoh :
1) Jangan menyiksa diri sendiri.
2) Wanita itu berhias di depan cermin.
d. Kalimat respirokal adalah kalimat yang subjek dan objeknya melakukan sesuatu pebuatan yang berbalas-balasan. Verba yang berfungsi sebagai predikat pada kalimat respirokal adalah verba yang beprefiks me- yang didahului oleh kata dasarnya, verba berulang yang berkombinasi dengan konfiks ber-kan, verba dasar yang diikuti oleh kata baku, dan saling yang diikuti oleh veba yang berprefiks me- atau me-i/kan.
Contoh :
1) Kedua Negara itu tuduh-menuduh tentang pelanggaran perbatasan.
2) Dua bersaudara itu saling mencintai dan saling menyayangi.
3) Pemuda-pemuda tanggung itu berbaku hantam di tanah lapang.
DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul. 2011. Linguistik Umum.
Ramlan, M. 2011. Sintaksis.
Contoh :
1) Semalam suntuk saya tidur di kursi, dan orang-orang itu bermain kartu.
2) Mula-mula dinyalakannya api, lalu ditaruhnya cerek diatasnya.
3) Dalam perang, kita harus berani membunuh lawan, kalau tidak kita sendiri yang dibunuh.
d. Kalimat majemuk rapatan, yaitu kalimat majemuk koordinatif yang klausa-klausanya mempunyai kesamaan-kesamaan, baik kesamaan subjek, predikat objek, maupun keterangan.
Contoh :
1) Rumah itu baru saja diperbaiki, tetapi sekarang sudah rusak.
2) Saya mengerjakana bagian depan, adik bagian belakang.
3) Dengan susah payah orang tuaku membangun rumah ini, tetapi saya tinggal menempati saja.
b. Berdasarkan respon yang diharapkan, kalimat dibedakan atas :
a. Kalimat pernyataan adalah kalimat yang dibentuk untuk menyiarkan informasi tanpa mengharapkan response tertentu. Cirri untuk mengenal kalimat pernyataan ini yaitu melalui pola intonasinya yang bernada akhir turun (dalam bahasa lisan) dan tanda titik (.) seperti ayo, mari; kata-kata persilahkan, seperti silahkan, dipersilahkan; dan kata larangan (jangan).
Contoh :
1) Cita-cita anak itu sangat mulia.
2) Saya tidak membawa uang sama sekali.
3) Menurut teori Darwin, manusia merupakan keteturunan kera.
b. Kalimat pertanyaan adalah kalimat yang dibentuk untuk memancing response yang berupa jawaban. Kalimat pertanyaan dapat dikenal dari pola intonasinya yang bernada akhir naik serta nada terakhir dan pola intonasi kalimat pertanyaan. Nada akhir kalimat pertanyaan ditandai dengan tanda Tanya (?) dalam bahasa tulisan.
Contoh :
1) Kakak sudah menikah?
2) Mengapa anak itu tidak tidur?
3) Siapa pemilik rumah itu?
c. Kalimat perintah adalah kalimat yang dibentuk untuk memancing responsi yang berupa tindakan (Samsuri, 1985:276-278). Kalimat perintah ditandai dengan tanda seru (!). tetapi penggunaan seru ini biasanya tidak dipakai kalau sifat perintah itu menjadi lemah, demikian juga predikatnya diikuti oleh partikel-lah. Kalimat perintah dapat bersifat negative. Untuk menegatifkan kalimat perintah, digunakan kata jangan yang biasanya ditempatkan pada bagian awal kalimat. Kaliamat perintah yang besifat negative berubah menjadi larangan.
Contoh :
1) Masuklah!
2) Marilah kita belajar bersama-sama!
3) Jangan membuang sampah di sembarang tempat!
c. Berdasarkan hubungan aktor-aksi, kalimat dapat dibedakan atas :
a. Kalimat aktif adalah kalimat yang subjeknya berperan sebagai pelaku actor. Subjek kalimat aktif berperan sebagai perbuatan yang dinyatakan oleh predikat. Predikat kalimat aktif tediri atas verba transitif dan verba intransitive. Afiks yang digunakan dalam pembentukan kata yang berfungsi sebagai perdikat kalimat aktif ialah meN- dan ber- yang dapat dikombinasikan dengan –I atau –kan.
Contoh :
1) Anak itu memetik bunga di taman.
2) Ayah membelikan kakak baju baru.
3) Pembantu itu sedang menyapu halaman.
b. Kalimat pasif adalah kalimat yang subjeknya berperan sebagai penderita. Subjek dalam kalimat pasif berperan sebagai penderita perbuatan yang dinyatakan oleh predikat kalimat tersebut.
Predikat kalimat pasif terdiri atas verba verba yang berpredikat di- yang dapat bekombinasi dengan sufiks –i dan –kan, beprefiks ter-, berkonfiks ke-an, dan verba yang didahului oleh pronominal persona.
Contoh :
1) Badannya dilumuri minyak.
2) Kita apakan barang-barang ini?
3) Tidak terlihat olehku benda yang kau tujukan itu.
c. Kalimat medial adalah kalimat yang subjeknya berperan baik sebagai pelaku maupun sebagai penderita perbuatan yang dinyatakan oleh predikat tersebut.
Contoh :
Jangan menyiksa diri sendiri.
Wanita itu berhias di depan cermin.
d. Kalimat respirokal adalah kalimat yang subjek dan objeknya melakukan sesuatu pebuatan yang berbalas-balasan. Verba yang berfungsi sebagai predikat pada kalimat respirokal adalah verba yang beprefiks me- yang didahului oleh kata dasarnya, verba berulang yang berkombinasi dengan konfiks ber-kan, verba dasar yang diikuti oleh kata baku, dan saling yang diikuti oleh veba yang berprefiks me- atau me-i/kan.
Contoh :
1) Kedua Negara itu tuduh-menuduh tentang pelanggaran perbatasan.
2) Dua bersaudara itu saling mencintai dan saling menyayangi.
3) Pemuda-pemuda tanggung itu berbaku hantam di tanah lapang.
d. Bedasarkan ada tidaknya unsur negatif pada klausa utama, kalimat dibedakan atas:
a. Kalimat firmatif, yaitu kalimat yang berpredikat utamanya tidak tedapat unsur negatif, peniadaan, atau penyangkalan.
Contoh :
1) Petani itu membajak sawah.
2) Di Surabaya diresmikan patung Jendral Sudirman.
3) Kami mendengar kabar bahwa pemberontakan di Iran sudah berakhir.
b. Kalimat negatif, yaitu kalimat yang predikat utamanya terdapat unsure negative, peniadaan, atau penyangkalan, seperti tidak, tiada (tak), bukan, jangan. Unsur negatif tidak dipakai di depan verba, adjektiva, adverbial, dan frase preposisi yang berfungsi sebagai keterangan. Unsure negatif bukan pada umumnya dipakai di depan nomina/frase nomina dan pronominal/frase pronominal. Unsur negatiF jangan digunakan untuk menegatifkan kalimat printah.
Contoh :
Sedikitpun aku tidak ingin berbuat jahat.
Bukan buku itu yang saya cari.
Jangan kau biarkan adikmu bermain dengan dia.
BAB III
KESIMPULAN
Kalimat adalah satuan-satuan sintaksis yang terkumpul menjadi satu serta memiliki aturan-aturan yang akan mengelompokkannya menjadi bentuk kalimat yang berbeda serta dilengkapi dengan konjungsi bila diperlukan.
A. Berdasarkan hubungan aktor-aksi, kalimat dapat dibedakan atas :
a. Kalimat aktif adalah kalimat yang subjeknya berperan sebagai pelaku actor. Subjek kalimat aktif berperan sebagai perbuatan yang dinyatakan oleh predikat. Predikat kalimat aktif tediri atas verba transitif dan verba intransitive. Afiks yang digunakan dalam pembentukan kata yang berfungsi sebagai perdikat kalimat aktif ialah meN- dan ber- yang dapat dikombinasikan dengan –I atau –kan.
Contoh :
1. Anak itu memetik bunga di taman.
2. Ayah membelikan kakak baju baru.
3. Pembantu itu sedang menyapu halaman.
b. Kalimat pasif adalah kalimat yang subjeknya berperan sebagai penderita. Subjek dalam kalimat pasif berperan sebagai penderita perbuatan yang dinyatakan oleh predikat kalimat tersebut.
Predikat kalimat pasif terdiri atas verba verba yang berpredikat di- yang dapat bekombinasi dengan sufiks –i dan –kan, beprefiks ter-, berkonfiks ke-an, dan verba yang didahului oleh pronominal persona.
Contoh :
1) Badannya dilumuri minyak.
2) Kita apakan barang-barang ini?
3) Tidak terlihat olehku benda yang kau tujukan itu.
c. Kalimat medial adalah kalimat yang subjeknya berperan baik sebagai pelaku maupun sebagai penderita perbuatan yang dinyatakan oleh predikat tersebut.
Contoh :
1) Jangan menyiksa diri sendiri.
2) Wanita itu berhias di depan cermin.
d. Kalimat respirokal adalah kalimat yang subjek dan objeknya melakukan sesuatu pebuatan yang berbalas-balasan. Verba yang berfungsi sebagai predikat pada kalimat respirokal adalah verba yang beprefiks me- yang didahului oleh kata dasarnya, verba berulang yang berkombinasi dengan konfiks ber-kan, verba dasar yang diikuti oleh kata baku, dan saling yang diikuti oleh veba yang berprefiks me- atau me-i/kan.
Contoh :
1) Kedua Negara itu tuduh-menuduh tentang pelanggaran perbatasan.
2) Dua bersaudara itu saling mencintai dan saling menyayangi.
3) Pemuda-pemuda tanggung itu berbaku hantam di tanah lapang.
DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul. 2011. Linguistik Umum.
Ramlan, M. 2011. Sintaksis.
Komentar
Posting Komentar